
Telah jelas dikatakan oleh Sebaik-baik manusia, yang mana perkataan nya tidak pernah dusta dan tidak timbul dari hawa nafsu, beliau صلى الله عليه وسلم menyerukan kepada umatnya untuk mengasingkan dirinya atau menjadikan dirinya sebagai seorang musafir Dan memerintahkan juga kepada umatnya untuk mempersiapkan akan dtngnya kematian. Lalu apakah makna didalamnya yang terkandung dalam hadits tersebut
Hakikat Kehidupan
Banyak orang mengartikan dan menafsirkan mengenai kehidupan adalah ketika seseorang lahir ke dunia ini lalu ia tumbuh dan berkembang dari kecil menjadi kanak-kanak menjadi remaja menjadi dewasa lalu tua dan akhirnya meninggal.
Kebanyakan mereka mengatakan bahwa masa kanak-kanak adalah masa dimana bermain puas-puas lalu tumbuh menjadi remaja dimana fase tersebut untuk mencari jati dirinya entah itu menuju kearah yang baik atau pun ke arah yang buruk, setelah itu ia tumbuh menjadi dewasa dimana dia harus mencari pekerjaan dan pasangan hidupnya hingga datang kepadanya masa tua yaitu dimana ia menghabiskan sisa hidupnya bersama keluarganya.
Lalu dimanakah letak agama dalam hidup kita? Apakah hidup kita hanya sebatas itu, hanya dihabiskan untuk mengejar dunia?
Sesungguhnya itu merupakan pemikiran yang keliru, kita berada di dunia ini adalah untuk beribadah sebagaimana yang Allah katakan dalam firman-Nya surat Adz-dzariyat ayat 56
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah”
